Minggu, 20 Desember 2009

Civil Defense foils maid’s suicide bid

Yousuf Muhammad | Arab News  

MADINAH: Teams from Civil Defense on Sunday night foiled a suicide attempt by an Asian maid who threatened to jump off a four-story building in Madinah’s Al-Kurdi district.

Col. Mansour Al-Juhani, official spokesman of the Civil Defense in Madinah, said their office received a call at 10 p.m. Sunday that the maid, believed to be in her early 20s, was threatening to commit suicide.

Civil Defense operatives placed a large air bag at the foot of the building as a precautionary measure to cushion the woman if she jumps.

The maid, however, backed out after officials convinced her not to continue. She was taken to hospital for a routine checkup and then handed over to the police.

Selengkapnya - Civil Defense foils maid’s suicide bid

Jumat, 18 Desember 2009

TKW Asal Brebes Disiksa di Arab Saudi

Kasus penyiksaan kembali dialami tenaga kerja wanita (TKW) asal Brebes, Jawa Tengah. Kejadian kali ini menimpa Nurkhasanah (25), TKW asal Dukuh Lancip RT 03 RW 01 Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.

BREBES - Kasus penyiksaan kembali dialami tenaga kerja wanita (TKW) asal Brebes, Jawa Tengah. Kejadian kali ini menimpa Nurkhasanah (25), TKW asal Dukuh Lancip RT 03 RW 01 Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.

Korban yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Riyad, Arab Saudi, itu disiksa majikannya Ny Saad Al Rojih dengan menyeterika beberapa bagian tubuhnya. Luka bekas seterikaan itu masih membekas jelas di wajah, kedua tangan, dan punggung korban.

Selain diseterika, putri pertama pasangan Sukhaemi (43) dan Roidah (40), itu selama hampir tujuh tahun kehilangan kontak dengan keluarga. Bahkan, gadis tamatan MTs Losari ini selama tujuh tahun tidak digaji. Korban berhasil keluar dari rumah majikannya saat rumah sepi dalam kondisi sepi. Korban tiba di Brebes menumpang travel pada Kamis (3/12/2009).

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Brebes Nursalim menuturkan, korban hampir setiap hari mendapat penyiksaan fisik dari majikannya. Penyiksaan fisik, mulai dari tubuh diseterika hingga dipukul dengan gagang sapu.

"Hampir setiap hari korban mengalami kekekrasan fisik," kata Nursalim.

Menurut dia, Nurkhasanah berangkat ke Arab Saudi pada 2002 melalui PJTKI PT Sapta Saguna yang beralamat di Tebet, Jakarta Selatan. Tidak jelas berapa nilai gaji sesuai kontrak kerja yang diterima korban. Namun selama tujuh tahun bekerja, korban tidak mendapat gaji. Korban hanya mendapat uang pesangon sebesar 200 riyal atau setara sekitar Rp400 ribu.

Selain itu, selama tujuh tahun korban juga tidak pernah pulang. Bahkan pihak keluarga kesulitan menghubungi korban.


"Pihak agensi di Arab Saudi setiap kali dihubungi keluarga hanya bilang keadaan korban baik-baik saja, tapi tiba-tiba tadi pagi korban pulang dalam kondisi tubuh dan wajah penuh bekas luka siksaan," paparnya.
Selengkapnya - TKW Asal Brebes Disiksa di Arab Saudi

1.018 TKI Meninggal selama 2009

Paling Banyak di Malaysia

JAKARTA - Angka kematian tenaga kerja Indonesia (TKI) sepanjang 2009 menyentuh angka yang fantastis. LSM Migrant Care memaparkan, akumulasi angka kematian buruh migran Indonesia di luar negeri 1.018 jiwa sepanjang tahun ini. Angka itu adalah yang tertinggi selama satu dekade terakhir.

''Sebanyak 63 persennya, yakni 683 orang, meninggal di Malaysia,'' kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah dalam Peringatan Hari Buruh Sedunia di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, kemarin (17/12).

Selain harus meregang nyawa, banyak TKI yang menjadi korban kekerasan dan penyiksaan. Angka kekerasan terhadap TKI mencapai 2.878 orang dalam setahun. Menurut Anis, data-data itu menunjukkan terjadi penurunan martabat bangsa Indonesia di hadapan bangsa lain yang mengeksploitasi pekerja dari tanah air. ''Kita harus malu dan berdiri bersama untuk membela hak mereka. Para TKI itu adalah pahlawan devisa, tapi pemerintah seakan tutup mata,'' kritik dia.

Anis menegaskan, pemerintah harus segera meratifikasi Konvensi PBB pada 1990 tentang Perlindungan Hak Buruh Migran dan Keluarganya. Ratifikasi itu, kata dia, merupakan bentuk komitmen tertinggi bagi perlindungan pekerja migran. ''Mandat konstitusi menunjukkan bahwa pemerintah wajib melindungi warga negaranya, tanpa kecuali buruh migran,'' ujar dia.

Di tempat yang sama, seorang TKI Malaysia bernama Fathonah, 27, mengatakan bahwa tenaga kerja yang sudah tiga tahun bekerja di Malaysia tidak mendapatkan gaji layak. Dia hanya memperoleh Rp 10 juta dari haknya Rp 46 juta. ''Saya sampai diceraikan suami karena dikira jual diri. Saya mohon dibantu untuk mendapatkan gaji saya,'' ujar Fathonah terisak-isak dalam testimoni yang dibacakan secara tertutup.

Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Dai Bachtiar mengatakan, masalah gaji yang tidak dibayar masih menjadi permasalahan utama. Dia juga mengakui, telah menemukan kasus yang paling parah dan menjurus kepada perbudakan. ''Saya menemukan pekerja yang enam tahun tidak dibayar. Dan, itu akan kami usut sampai tuntas,'' ujarnya.

Menurut Dai, KBRI di Malaysia telah meminta Malaysia lebih efektif memanggil majikan yang menunggak upah para pekerja Indonesia. Namun, tidak semua bersedia. Padahal, dari upaya yang dilakukan tersebut, Da'i mengatakan sudah berhasil menyelamatkan uang TKI sebesar Rp 3,5 miliar pada 2009. ''Sepanjang 2009 terdapat 172 kasus gaji dan 50 persennya berhasil diselesaikan. Sisanya (yang belum tuntas, Red) dibawa ke pengadilan,'' paparnya.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dalam sambutannya mengatakan, pemerintah belum optimal terhadap buruh migran. ''Perlu optimalisasi lintas sektoral, perlu optimalisasi perwakilan di negara penempatan,'' jelasnya.

Sementara itu, Depnakertrans menghentikan pengiriman TKI ke Kuwait. ''Ini menyusul banyaknya laporan tindak kekerasan dan penyiksaan terhadap pekerja migran Indonesia yang tidak kunjung terurai. Jadi, kami hentikan pengiriman sementara'' tegas Muhaimin.

Menurut dia, upaya pemerintah Indonesia untuk membuka jalur komunikasi dengan pemerintah Kuwait sulit dilakukan. Menteri yang juga ketua umum DPP PKB tersebut khawatir, jika pengiriman TKI ke Kuwait dilanjutkan tanpa kerja sama bilateral yang jelas, nasib mereka dipertaruhkan. ''Sebab, akan sulit melindungi mereka tanpa ada MoU yang jelas,'' ujarnya. (zul/agm)
Selengkapnya - 1.018 TKI Meninggal selama 2009

Selasa, 15 Desember 2009


JEDDAH, KOMPAS.com - Pembantu rumah tangga asal Indonesia, Rohani (39 tahun) asal Patramenggala, Tangerang, diselamatkan oleh seorang keponakan majikannya yang sering menganiayanya ke Kantor Konjen RI di Jeddah.

Kepada wartawan saat ditemui di Kantor Konjen RI di Jeddah, Selasa, hampir seluruh wajah Rohani lebam dan juga ada luka sayatan akibat penganiayaan oleh majikannya, seorang janda beranak dua yang berprofesi sebagai dokter.

Menurut pengakuan Rohani, ia mengalami tindak kekerasan seperti dilempar atau dipukuli dengan apa saja yang ditemui majikannya hanya akibat kesalahan kecil, termasuk tidak menyahut saat dipanggil karena ia tidak mendengar teriakan dari majikannya dari ruang lain yang cukup berjauhan.

Kedua telapak dan jari tangan Rohani juga melepuh karena ia dipaksa mencuci pakaian keluarga janda beranak dua itu dengan cairan pemutih tanpa sarung tangan.

Rohani yang baru dua bulan berkerja itu juga mengungkapkan, bahwa ia harus bekerja dari pukul lima pagi sampai dini hari keesokan harinya dan hanya diberi kesempatan tidur dua sampai tiga jam saja. Itu pun kalau agak telat bangun harus menerima perlakuan kasar atau malah penganiayaan oleh majikannya, apalagi jika ia terlambat membangunkan kedua anak majikannya atau anak majikannya tetap tidak bangun walaupun sudah dibangunkan untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Rohani juga terpaksa bertahan di rumah majikannya itu karena ia tidak tahu harus meminta perlindungan kemana, bahkan ia pernah diancam akan dibunuh oleh majikannya saat tertangkap tangan sedang mengintip dari jendela ke luar.

Majikan Rohani juga menahan surat-surat keterangan yang dimilikinya seperti paspor atau KTP dan nomor-nomor telepon orang yang harus dihubunginya.

Gaji pembantu naas itu juga tidak dibayarkan, sementara menurut penuturannya, ia semula enggan untuk bekerja di Arab Saudi karena semula mendaftarkan diri untuk menjadi TKW di Abu Dhabi, tetapi staf biro pengerah tenaga kerja yang bernama Ny Atikah dari PT Akbar Putra Mandiri mengancamnya harus membayar Rp 5 juta jika menolak untuk diberangkatkan.

Saat ini pembantu naas itu berada di tempat penampungan sementara di Kantor Konjen RI di Jeddah, di tempat sama yang saat ini terdapat puluhan pembantu atau TKW Indonesia yang bermasalah dan sedang menanti proses pemulangan ke tanah air setelah kasusnya tuntas.

Staf Konjen RI Edward Nizar mengemukakan bahwa pihaknya telah mencoba untuk menghubungi majikan Rohani yang katanya berjanji memenuhi panggilan untuk memberikan klarifikasi mengenai perbuatannya. Di tempat penampungan sementara itu, dua TKW korban penganiayaan yakni Kenny dari Brebes dan Kartini dari Lampung yang kasusnya pernah mencuat di media juga sedang menanti penyelesaian kasus yang dialami mereka dengan majikan masing-masing.

Pihak Konjen RI tidak begitu saja bisa memulangkan TKI atau TKW bermasalah sebelum kasusnya diporses oleh pemerintah setempat yang memiliki otoritas penanganan terhadap warga asing di negara itu.
Selengkapnya -

Senin, 14 Desember 2009

Menjenguk Wanita Korban Kebiadaban Majikan di Arab Saudi


Menjenguk Wanita Korban Kebiadaban Majikan di Arab Saudi

Anak Lahir di Penampungan, Belum Bertemu sang Ayah

Beberapa wanita Indonesia yang menjadi korban kebiadaban majikan di Arab Saudi menuntut keadilan. Kini mereka ditampung di tempat penampungan WNI bermasalah KJRI Jeddah. Salah seorang di antara mereka melahirkan anak di sana.


BAIHAQI, Jeddah


---


BAYI
itu tidur di gendongan ibunya. Saking pulasnya, dia tak bangun ketika badannya digoyang-goyang. Ketika pantatnya ditepuk-tepuk, dia sedikit menggeliat. Tapi, matanya tetap memejam. Senyumnya sempat mengembang ketika pipinya yang montok ditowel sambil namanya dipanggil-panggil.

Ibunya, Keni binti Carda Bodol, ikut tersenyum. Namun, senyum itu segera menghilang ketika dia bercerita mengenai kelahiran anaknya itu. Farah Octavia, bayinya itu, lahir 16 Oktober lalu ketika Keni sedang memperjuangkan nasib akibat kekejaman majikan di Arab Saudi. Hingga sekarang, bayi itu belum pernah bertemu dengan ayahnya yang tinggal di Jakarta.

Bayi perempuan tersebut merupakan buah cinta dalam kondisi yang amat memprihatinkan. Keni, wanita asal Losari Lor, Losari, Brebes, Jateng, saat itu sedang sakit parah akibat siksaan majikan di Arab Saudi. Sekujur tubuhnya terbakar. Empat giginya rontok. Bibirnya pecah-pecah. Lidahnya terluka akibat sayatan pisau. Dalam kondsi seperti itulah, dia berbagi kasih dengan lelaki sejatinya. ''Ya, saya
kan punya suami,'' ujarnya dengan senyum yang dipaksakan.

Sebelum anaknya lahir, Keni harus berpisah dengan suaminya, Saifudin. Dia difasilitasi pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan kasusnya di Jeddah, Arab Saudi. Bulan puasa lalu, ketika sedang hamil tua, dia berangkat ke Jeddah tanpa didampingi suami tercinta. Berat, tetapi harus dilakukan demi memperoleh keadilan.


Ketika berpisah, suaminya bekerja di Jakarta. Sekarang Keni tak tahu tempat tinggalnya. ''Dia sudah pindah,'' ujar Keni. Komunikasi hanya dijalin lewat telepon. Itu pun hanya dalam momen-momen yang amat penting, termasuk ketika dia baru melahirkan. ''Bapaknya belum pernah melihat anaknya ini,'' katanya. Matanya berkaca-kaca. Pandangannya kemudian dialihkan kepada anaknya itu.

Di Jeddah, Keni menghuni tempat penampungan WNI bermasalah bersama puluhan wanita senasib. Mereka kebanyakan tidak dibayar oleh majikan yang telah memeras tenaganya. Ada pula yang seperti Keni, dianiaya hingga cacat seumur hidup. Sebagian di antara mereka menjadi korban kerakusan seksual. Sudah ada 198 WNI di penampungan KJR Jeddah yang dipulangkan dalam sebulan terakhir.

Ketika kloter ketiga yang terdiri atas 100 orang dipulangkan ke tanah air Kamis lalu (10 Desember 2009), Keni hanya bisa melepas dengan tatapan kosong. Persoalan rekan-rekannya tersebut telah selesai, sedangkan dirinya belum tahu sampai kapan harus mengikuti proses hukum di negeri orang.

Wanita itu harus menghadapi tembok keadilan yang selama ini belum pernah dijamahnya. Majikannya, Khaled Al-Khuraefi, yang diadukannya, adalah seorang mahkamah. Hingga sekarang, baru sepotong proses hukum yang dilalui. ''Saya sudah diperiksa. Demikian juga majikan saya,'' katanya kepada koran ini di tempat penampungan.

Peristiwa yang dialami Keni bermula ketika dia bekeja sebagai pembantu rumah tangga kepada keluarga Khuraefi. Awalnya baik-baiknya saja. Dia diiming-imingi gaji SR 800 (sekitar Rp 2 juta) per bulan. Pada bulan pertama dan kedua, gaji itu pun lancar.

Menginjak bulan ketiga, persoalan mulai mucul. Istri majikan, Wafa, tidak puas atas pekerjaan yang dia lakukan. Dia sering marah-marah. Keni dianggap tidak cekatan. Kemurkaan terus memuncak hinga siksaaan demi siksaan ditumpahkan kepada Keni.


Wanita itu menceritakan, setiap dianggap tidak beres, tubuhnya disetrika. Suatu ketika bibirnya disayat dengan pisau. Di lain waktu giginya dicongkel. Ujung lidahnya ikut terpotong. Dia dipaksa menelan empat gigi bersama ujung lidahnya itu. ''Semua masuk ke perut,'' katanya dengan suara tersendat.

Kasus itu terbongkar setelah wanita 29 tahun tersebut dipulangkan ke kampung halamannya. Cadar hitam yang dipakaikan majikannya tak bisa menutup peristiwa yang dialami sebenarnya. Pemerintah Indonesia turun tangan. Keni dirawat di RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta. Setelah tiga bulan, luka-lukanya sembuh. Namun, keloid tetap menonjol di bekas luka-lukanya itu. Dalam kondisi seperti itu, dia dibawa ke Jeddah untuk menuntut keadilan.

Kamis lalu (10 Desember) ketika dijenguk Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Teguh Wardoyo, Keni memperlihatkan bekas luka-luka tersebut. Telinganya sudah berubah bentuk. Bibirnya tak utuh lagi. Keloid menutup hampir seluruh tangan, leher, dan sebagian tubuhnya. Giginya masih dibiarkan ompong.

Selama di penampungan, hari-harinya dihabiskan untuk merawat si jabang bayi. Hatinya bisa terhibur karena dia tidak sendirian. Bayinya pun sering menjadi rebutan pengasuhan rekan-rekannya sesama TKW yang bermasalah.


Selain Keni, di tempat penampungan berlantai II yang dilengkapi pendingin ruangan itu juga ada Kartini. Wanita itu juga menjadi korban kebiadaban majikan. Di sekujur tubuhnya terdapat bekas luka bakar. Kondisnya hampir sama dengan Keni. Malah, bekas-bekas luka itu belum sepenuhnya sembuh.

Wanita asal Mataram, NTB, itu menceritakan, dirinya disiksa majikan ketika bekerja di Jeddah. Selama 4,5 bulan, gajinya 800 real per bulan tak dibayarkan. bahkan, sehari-hari dia mendapat penganiayaan berat. Selain diseterika, matanya ditusuk dengan kayu. Mata itu masih kelihatan bengkak. Payudaranya juga dilukai dengan pisau. ''Saya dibuang di Madinah,'' kisahnya.

Bersama Keni, Kartini juga sedang berjuang menuntut keadilan. Kasusnya sama-sama masih diproses di pengadilan. Hari-harinya pun dilalui dengan penuh harap. (*)

Selengkapnya - Menjenguk Wanita Korban Kebiadaban Majikan di Arab Saudi