Senin, 15 Maret 2010

TKW Diancam Bunuh Majikan

Dilindungi Dokter yang Merawatnya di RS
JEDDAH - SURYA- Seorang tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia
dipaksa kembali ke majikannya oleh polisi Arab Saudi. Namun, dia
dilindungi dokter karena TKW itu disiksa majikan.

Kasus ini bermula ketika Sariti Haiti diantar tim Bulan Sabit Merah (Red
Cresent) dengan tubuh penuh luka dan lebam ke RS Erfan & Bagedo
Jeddah, Arab Saudi pada 20 Desember 2009.

Laporan awal menyebut Sariti menderita patah tulang belakang dan
leher karena terjatuh dari lantai tiga apartemen majikannya.


Namun, kepada pihak RS, Sariti mengaku disiksa majikan. Dari hasil
visum dipastikan bahwa luka pada tubuhnya disebabkan pukulan. Ada bekas
luka bakar, cambuk, dan pendarahan dalam pada luka pada kepala Sariti.


Biaya perawatannya mencapai 120.000 real (Rp 297 juta).


Menurut wakil manajer umum RS Erfan & Bagedo, dr Ahmed Erfan,
Sariti bekerja pada seorang perempuan Saudi. “Kami menghubungi
majikannya agar membayar tagihan biaya rumah sakit. Dia mengakui Sariti
pembantunya. Namun, dia menolak membayar tagihan itu,” ujar dr Erfan.


Konsulat Lepas Tangan


RS itu lalu menghubungi Konsulat Indonesia di Jeddah. Seminggu
setelah menerima surat pemberitahuan dari RS, seorang wakil konsulat
mengunjungi Sariti. Namun, perwakilan Indonesia di Jeddah itu tidak
kembali lagi.


“Setelah dua bulan kasus ini terkatung-katung, kami mengirim surat ke
Gubernur Jeddah, Pangeran Mishaal bin Majed, yang berjanji
menindaklanjuti kasus ini,” imbuh Erfan.


Pekan lalu, RS menerima surat dari kepala polisi Safa. Isinya meminta
RS menyerahkan Sariti ke majikannya.


“Kami mengkhawatirkan keselamatannya, karena itu dia ditempatkan di
bagian psikiatri yang dijaga 24 jam. Kami juga menghubungi Masyarakat
Hak Asasi Manusia Nasional. Mereka meminta kami tidak menyerahkannya,”
tutur Erfan.


Erfan mengaku terkejut konsulat Indonesia tidak bekerja sama. “Yang
kami khawatirkan bukan biaya perawatan, tapi kesehatannya,” tegas Erfan.


Komisi Hak Asasi Arab Saudi berjanji mendiskusikan hal ini dengan
pihak-pihak berwenang.


Kepada Arab News, Sariti mengatakan, dia mulai bekerja di Saudi pada
Agustus 2009. “Sebulan setelah bekerja, saya mulai mendapat kekerasan,”
katanya.


Sariti mengisahkan, bila ia terlambat menyelesaikan pekerjaan,
makanannya langsung dibuang ke tempat sampah. Rambutnya juga dikepras
supaya dia tidak bisa keluar rumah.


Dia juga pernah dituduh mencuri perhiasan emas majikannya. “Majikan
perempuan itu menyeret saya ke depan anak-anak lelakinya lalu melucuti
semua baju saya,” tuturnya.


Majikan itu pernah menyuruhnya pergi setelah menyerahkan paspornya.
Namun, Sariti menolak karena takut dilaporkan ke polisi bahwa dia
melarikan diri.


Pada 19 Desember 2009, kepala Sariti dipukul dengan wajan bertangkai
hingga berdarah. “Dia mengancam memotong-motong tubuh saya bila tidak
menuruti permintaannya,” katanya.


Karena takut dibunuh, Sariti mencoba melarikan diri dengan cara
melompat dari jendela apartemen. n arabnews/kis



0 comments: