
Ketua Umum Himsataki M.Yunus Yamani
Menurutnya, kalangan Perusahaan jasa TKI (PJTKI) menyayangkan sikap pemerintah yang tidak memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.
“Sekitar 90 persen PPJTKI setuju dengan pelatihan selama 200 jam (21 hari) yang dirancang dengan Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenakertrans. Tapi masih ada 10 persen PJTKI yang membandel,” kata Yunus.
Namun Yunus menyayangkan, program yang didukung Menakertrans Muhaimin Iskandar tersebut kini mulai goyah. Setiap hari asosiasi PJTKI menerima komplain dari anggota bahwa PJTKI tertentu bisa menempatkan tanpa harus melatih TKI 200 jam.
“Mereka mendapat rekomendasi penempatan bukan dari pejabat Kemenakertrans, tetapi dari BNP2TKI,” kata Yunus. Ketika ditanya apakah dia memiliki bukti, Yunus mengatakan dirinya memiliki setumpuk bukti.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan, maka kebijakan sebagus apapun jika pemerintah tidak sepakat maka tidak banyak yang bisa diperbuat. Menurut dia, ambiguitas dalam penanganan TKI harus segera diakhiri.
“Pemerintah harus bersepakat dan tidak saling menjatuhkan program. Jangan, karena ini program yang disetujui kementerian lalu ditentang, atau mengeluarkan kebijakan yang berlawanan,” kata Yunus.

Powered by ScribeFire.




0 comments:
Poskan Komentar