Muhaimin mengungkapkan, pihaknya sudah berbicara dengan Menteri Perburuhan dan Sosial Sultan bin Hassan Al Dhabett Al Dossary serta Menteri Kesehatan Qatar Sheikha Ghalia. Mereka menginginkan Indonesia mengisi peluang tenaga kerja disekor formal tersebut.
“Kita akan mengirim tim dari Indonesia untuk membahas jumlah dan sistem rekrutmen yang diperlukan. Saat ini sudah 27.000 TKI di Qatar, 5000 diantaranya disektor formal,” katanya saat dihubungi melalui telepon dari Qatar, kemarin.
Selain itu, pemerintah melakukan joint working group (JWG) sesuai dengan amanat nota kesepahaman yang sudah disepakati oleh kedua negara dengan mengirim seniors officer untuk melakukan pertemuan itu dan juga menyiapkan tenaga yang dibutuhkan dan salah satu syaratnya mampu berbahasa Inggris dan Arab.
Sekjen Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati), Rusjdi Basalamah, menegaskan syarat kedua bahasa tersebut sangat penting, mengingat pengguna jasa di negara itu dari berbagai kebangsaan, bukan hanya orang Qatar.
“Sekarang, tenaga perawat di Qatar paling banyak dari Filipina, sedangkan dokter banyak dari Mesir dan Syria, padahal Indonesia mampu menempatkan perawat ahli dan juga para dokter spesialis,” jelas Rusjdi yang mengikuti pertemuan tersebut.
Menurut Muhaimin, Menteri Kesehatan Qatar akan mengirim delegasi ke Indonesia untuk melihat klasifikasi perawat yang ada di Tanah Air sesuai dengan kebutuhan di negara itu.
“Saya berjanji akan melakukan follow up dari hasil pertemuan ini dengan Meteri Kesehatan di Tanah Air guna mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan,” tukasnya. (tri/B)





0 comments:
Poskan Komentar